CaraHidup Hemat - Perkembangan teknologi yang cepat membuat para pelaku usaha mulai memanfaatkan teknologi untuk memasarkan produk usahanya. Mereka mulai memanfaatkan sosial media sebagai media untuk memasarkan produknya. Mereka juga menyadari bahwa di era sekarang banyak masyarakat yang sudah mulai beralih ke online shopping. Ya, karena dengan menggunakan online shopping semuanya menjadi 4 Faktor Utama Menjalani Gaya Hidup Hemat, Jangan Berlebihan! – Ada beberapa orang yang memilih berhemat karena kebutuhan dan ada sebagian lain hidup di bawah kemampuan karena gaya hidup. Ada banyak milyarder atau orang kaya yang memilih untuk mengendarai mobil tua sehari-hari. Atau ada juga mereka yang lebih suka mengerjakan sesuatu sendiri karena lebih hemat daripada meminta bantuan dari orang lain. Meskipun ada beberapa alasan yang berbeda mengapa orang mengadopsi gaya hidup hemat. Tetapi ada 4 faktor utama yang membuat mereka menjalani gaya hidup hemat. 1. Memilih Untuk Membantu Orang yang Membutuhkan Sikap sosial yang tinggi akan mendorong seseorang untuk tidak bersikap konsumtif dan lebih memilih untuk berhemat. Dengan hidup di bawah kemampuan, maka Anda bisa memiliki lebih banyak pendapatan yang bisa disumbangkan untuk mereka yang membutuhkan. 6 Alasan yang Membuat Anak Muda Tidak Berinvestasi, Apakah Kamu Salah Satunya? 6 Alasan yang Membuat Anak Muda Tidak Berinvestasi, Apakah Kamu Salah Satunya? 6 Alasan yang Membuat Anak Muda Tidak Berinvestasi, Apakah Kamu Salah Satunya? – Meskipun ... Selengkapnya 2. Peduli Terhadap Lingkungan Konsep keberlanjutan adalah salah satu faktor pendukung yang membuat banyak orang menjalani hidup hemat. Baca Juga Tidak Disadari, Ini 5 Hal yang Bisa Menghambat Pertumbuhan Kekayaan Kamu Misalnya saja membeli pakaian di toko bekas, menghindari membeli ponsel baru jika ponsel lama masih bisa digunakan, dan mencoba berbagai produk lokal. Gaya hidup seperti ini akan mengurangi sumber daya dan polusi yang kemudian akan bermanfaat terhadap lingkungan secara keseluruhan. 5 Alasan Pengembangan Diri Penting Tak Peduli Berapa Usiamu Part II 5 Alasan Pengembangan Diri Penting Tak Peduli Berapa Usiamu Part II 5 Alasan Pengembangan Diri Penting Tak Peduli Berapa Usiamu Part II – Setelah kamu membaca ... Selengkapnya 3. Menolak Gaya Hidup Konsumtif Saat ini kita bisa dengan mudah mengakses berbagai kebiasaan foya-foya yang dilakukan banyak orang di media sosial dan cara untuk menghabiskan uang hasil jerih payah. Baca Juga 11 Cara Sederhana Mengubah Diri Menjadi Lebih Baik Mengabaikan dan menolak sikap konsumtif adalah cara yang perlu dilakukan untuk membebaskan diri dari gaya hidup konsumtif. Daripada uang hasil jerih payah dihabiskan untuk hal yang tidak bermanfaat, lebih baik Anda menggunakan uang tersebut untuk ditabung dan berinvestasi mempersiapkan masa depan. Sisihkan sebagian penghasilan sedikitnya 10% untuk persiapan masa depan. Mulailah upayakan untuk mulai berinvestasi secara rutin demi keuangan masa depan. Baca Juga Lebih Mudah Melakukan Apa Yang Orang Sukses Lakukan – Oleh Robert Kiyosaki Nah, hasil investasi tersebut selanjutnya bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan di masa depan, misalnya untuk memulai bisnis, membeli rumah, dana pendidikan anak, atau dana liburan keluarga. Ciri-Ciri Orang Kreatif, Apakah Kamu Salah Satunya? Ciri-Ciri Orang Kreatif, Apakah Kamu Salah Satunya? Ciri-Ciri Orang Kreatif, Apakah Kamu Salah Satunya? – Orang kreatif cenderung berpikir dan ... Selengkapnya 4. Menumbuhkan Sikap Mandiri Membiasakan hidup hemat akan mengasah tingkat kemandirian dan kreativitas menjadi lebih baik. Baca Juga 10 Quotes Terbaik The Alchemist Tentang Kehidupan Misalnya saja membuat hadiah sendiri untuk teman, belajar memperbaiki sesuatu, dan lain sebagainya. Ada rasa kepuasan tersendiri saat bisa menguasai keterampilan tertentu dan mampu mengatasi setiap permasalahan yang ada di dalam kehidupan tanpa bantuan dari orang lain. Jika mengajarkan sikap berhemat kepada anak, maka hal ini secara tidak langsung akan mengajarkan mereka kemandirian. Secara garis besar, gaya hidup hemat adalah pilihan yang perlu dilakukan untuk Anda yang ingin mengembangkan kekayaan di masa depan. Baca Juga 20 Quote Terbaik John Lennon dari The Beatles Tidak hanya itu saja, gaya hidup hemat juga perlu dilakukan bavi Anda yang ingin membantu orang lain, peduli lingkungan, dan ingin menumbuhkan sikap mandiri. Daripada menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak perlu lebih baik memanfaatkan uang yang dimiliki untuk mempersiapkan masa depan. Menabung dan berinvestasi adalah gaya hidup yang perlu diterapkan bagi siapa saja yang peduli dengan masa depan mereka dan keluarga. 5 Gaya Hidup Sederhana yang Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup 5 Gaya Hidup Sederhana yang Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup 5 Gaya Hidup Sederhana yang Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup – Saat berbicara tentang gaya ... Selengkapnya Jangan Pernah Berhenti Melakukan 8 Hal Ini Dalam Hidupmu! Jangan Pernah Berhenti Melakukan 8 Hal Ini Dalam Hidupmu! Jangan Pernah Berhenti Melakukan 8 Hal Ini Dalam Hidupmu! – Hidup itu singkat, waktu terasa ... Selengkapnya Bacaan Lainnya Melihat Uang Ketika Orang Lain Tidak Bisa Melihat – Oleh Robert Kiyosaki Biar Kamu Tidak Kehilangan Arah, Begini Aturan Utama Finansial Menurut Kim Kiyosaki Tips Keuangan Dari Robert Kiyosaki Ini Bisa Membantumu Mempersiapkan Keuangan Masa Depan Buat Kamu Pasangan yang Baru Menikah, Coba Praktikkan 10 Tips Keuangan Ini Untuk Kamu Anak Muda, Tips Ini Bisa Membantumu Menyiapkan Keuangan di Masa Depan 5 Langkah Menyusun Rencana Untuk Kesuksesan – Oleh Robert Kiyosaki Memiliki Lebih Banyak Uang Belum Tentu Bisa Mengatasi Masalah. Ini Alasannya! Inilah 5 Kunci Membangun Kekayaan yang Harus Kamu Terapkan Sedari Muda Punya Gaji UMR? Ikuti 5 Tips Nabung Ini Demi Keuangan Masa Depan 10 Kerja Sampingan Sebagai Sumber Penghasilan Tambahan Untuk Anak Milenial Ini yang Harus Kamu Tahu Tentang Perencanaan Keuangan dan 5 Tips Merencanakan Keuangan 5 Langkah Menyusun Rencana Untuk Kesuksesan – Oleh Robert Kiyosaki Cara Membuat Blog dengan WordPress Self-Hosted Lengkap KoinWorks Cara Cerdas Menabung’ di Dunia Modern Keamanan Investasi P2P KoinWorks, Fintech Lending Indonesia 5 Situs Gratis Untuk Membuat Logo Online 5 Aplikasi untuk Investasi dengan Modal Kecil Dari Hobi Menjadi Bisnis Bisakah Kamu Mengubah Hobi Menjadi Sebuah Bisnis? Ingin Memulai Bisnis Pertamamu? Berikut Saran Dari Robert Kiyosaki 9 Aturan Keuangan Sederhana Untuk Mendapatkan Kehidupan yang Lebih Baik PenggunaannAC secara berlebihan dapat berdampak buruk juga untuk kesehatan. Seperti kulit kering, dehidrasi karena suasana ruangan yang lebih dingin dari suhu tubuh sehingga dapat menyerap air lebih banyak dari biasanya. Sebenarnya sobat kosngosan yang menggunakan AC yang bagus di dalam ruangan hanya untuk memberikan udara segar di dalam ruangan. Il faudra éliminer les causes potentiellement graves cancer, maladie rénale… ou évitables lithiase. La perte de sang dans les urines peut sembler impressionnante mais elle est rarement importante. Les causes traumatiques notamment la décélération brutale avec rupture de l’artère rénale lors d’un accident de voiture par exemple s’inscrivent dans un contexte qui doit être pris en charge en urgence, toutefois la lésion rénale en elle-même met rarement en danger la vie du patient mais les autres lésions le peuvent. Elle risque, en revanche, de compromettre définitivement le fonctionnement du rein touché. Certains patients ayant un bilan complémentaire initial rassurant peuvent développer un cancer par la suite. Il est donc important de maintenir un suivi, en particulier pour les patients ayant des facteurs de risque de cancer par exemple les fumeurs. L’association américaine des urologues propose, par exemple, de vérifier la pression artérielle et de refaire une bandelette urinaire et une cytologie urinaire après 6 mois, 1 an, 2 ans et 3 ans, aux patients ayant un bilan initial négatif en dépit d’une hématurie microscopique sans autre symptôme et, bien sûr, faire des examens immédiatement si réapparaissent des symptômes. Walaupunmereka sudah memiliki harta hingga triliunan rupiah bukan berarti mereka juga tidak hemat dalam membeli sesuatu. Dilansir dari Reader's Digest, kebanyakan orang kaya tidak membeli sesuatu - Ada banyak contoh energi yang bisa ditemukan di lingkungan sekitar. Energi tersebut sangatlah berpengaruh pada kehidupan dan aktivitas manusia. Sudah menjadi hak manusia untuk memanfaatkan energi yang ada. Namun, kewajibannya tidak boleh ditinggalkan, yakni merawat dan melestarikan energi tidak dirawat dan dilestarikan, dikhawatirkan sumber energi akan habis dan tidak bisa dirasakan dan digunakan oleh generasi berikutnya. Penghematan energi menjadi salah satu upaya untuk melestarikan dan merawat energi. Sehingga keberlangsungan energi bisa terus menerus ada dan terawat hingga generasi berikutnya. Melansir dari situs Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, penghematan energi bisa juga disebut sebagai konservasi energi, yang berarti tindakan mengurangi penggunaan energi secara berlebihan. Menghemat energi berarti tidak menggunakan energi untuk hal yang tidak diperlukan. Kata lainnya, energi digunakan seefisien dan seefektif mungkin. Baca juga Penghematan EnergiBerbeda dengan penghematan energi, sikap boros energi merupakan tindakan menggunakan energi secara berlebihan dan tidak tepat guna. Artinya energi digunakan untuk hal atau aktivitas yang kurang penting. Pemborosan energi sangatlah tidak baik untuk keberlangsungan energi, selain berdampak buruk untuk lingkungan, kelestarian energi juga menjadi terancam. Agar lebih mudah memahaminya, mari kita simak contoh sikap hemat energi dan boros energi di lingkungan masyarakat Sikap hemat energi Sikap boros energi Mematikan lampu saat siang hari yang cerah Menyalakan lampu saat siang hari yang cerah Mematikan keran air setelah bak mandi terisi penuh Terus menyalakan air, meskipun bak mandi sudah penuh dan airnya tumpah Mencabut daya pengisi laptop dan gadget setelah baterai terisi penuh Terus mencolokkan daya pengisi laptop dan gadget meskipun baterai sudah terisi penuh Menonton televisi pada jam tertentu saja Menonton televisi sepanjang hari, mulai pagi sampai malam Mematikan kipas angin saat tidak digunakan Menyalakan kipas angin terus menerus meskipun sedang tidak digunakan Mematikan dan mencabut kabel komputer dan printer setelah selesai digunakan Terus menyalakan komputer dan printer meskipun tidak digunakan Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih menggunakan kendaraan umum Menggunakan kendaraan pribadi secara terus menerus dan berlebihan Mematikan kompor jika tidak digunakan atau setelah selesai digunakan Menyalakan kompor secara berlebihan dan saat tidak digunakan Mengurangi penggunaan gadget Terus menerus menggunakan gadget meskipun sedang tidak dibutuhkan Mematikan AC saat ruangan kosong atau saat tidak digunakan Menyalakan AC secara terus menerus agar ruangan tetap dingin Sikap hemat energi harus diterapkan, karena membawa banyak manfaat untuk kehidupan manusia. Salah satunya ialah penghematan uang, tenaga dan energi. Sebaliknya, sikap boros hanya akan merugikan diri sendiri dan lingkungan masyarakat. Baca juga Kewajiban Manusia Terhadap Perubahan Energi Contohnya menggunakan kendaraan pribadi secara berlebihan bisa meningkatkan polusi. Sebaliknya dengan memakai kendaraan umum, seperti bus bisa menurunkan tingkat polusi. Contoh lainnya dengan mematikan peralatan listrik saat digunakan dapat mengurangi pengeluaran biaya. Sedangkan jika boros, pengeluaran uang akan terus bertambah. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
CollinsEnglish Dictionary mengdefinisikan Cheapskate (Pelit) as "a miserly person" or "a stingy hoarder of money and possessions (often living miserably)" while Frugal (Hemat) is defined as "practicing economy, living without waste, thrifty". Pelit: orang yang sengsara, penimbun uang dan harta benda (sering kali hidp menderita).
Hadirnya energi listrik di dalam kehidupan masyarakat merupakan salah satu hal penting yang mendukung pesatnya perkembangan kemajuan kehidupan sekarang. Hemat energi listrik bukan sekedar menghemat biaya pengeluaran, tetapi lebih jauh lagi dapat mencegah krisis pasokan listrik dan membantu me-nyelamatkan bumi dari kerusakan akibat pemanasan global lantaran pemakaian energi listrik yang berlebihan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kampanye hemat listrik terhadap efisiensi energi pada ibu rumah tangga yang bekerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Subjk dan informan penelitian ini berberjumlah 10 orang dan memiliki karakteristik sebagai ibu rumah tangga, bekerja, dan melakukan hemat lisitrik pada rumah tinggal. Metode pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara. Teknik analisis data menggunanakan metode interaktif yaitu reduksi data, menyajikan data, membuat kesimpulan dan virifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kampanye maupun iklan yang menghimbau untuk hemat energi listrik tidak mendapat respon yang kurang baik dari ibu rumah tanggah dikarenakan tidak didukung oleh orang sekitar dan kurang pemahaman akan hemat energi. Ada-pun factor-faktor yang mempengaruhi penggunaan listrik secara tidak efisien adalah adanya faktor pendapatan, demografi, kepercayaan, bangunan tradisional. Sedangkan faktor internal meliputi malas dan kebiasaan. Serta yang terakhir adalah factor kurangnya rasa peduli terhadap lingkungan sehingga mempengaruhi dalam pemakaian energi listrik secara tidak efisien. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Psikostudia Jurnal Psikologi Vol 7, No 2, Desember 2018, hlm. 71-81 KAMPANYE HEMAT LISTRIK TERHADAP EFISIENSI ENERGI PADA IBU RUMAH TANGGA YANG BEKERJA 1 Rini Fitirani Permatasari, 2 Rahma Wati, 3 Putri Hanifah, 4 Misriyanti 1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman Samarinda email 2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman Samarinda email watirahma1998 3 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman Samarinda email putrihanifah55 4 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman Samarinda email misriyanti16 ABSTRACT. The presence of electricity in people's lives is one of the important things that supports the rapid development of the progress of life today. Saving electricity is not just saving costs, but can further prevent the electricity supply crisis and help save the earth from damage caused by global warming due to excessive use of electricity. The purpose of this study was to find out the description of saving electricity campaigns on energy efficiency in working housewives. This study uses a qualitative approach with phenomenology methods. The research subject and informant numbered 10 people and had the characteristics of being a housewife, working, and giving electricity savings to homes. The method of collecting data uses observation and interviews. Data analysis techniques use interactive methods, namely data reduction, presenting data, making conclusions and verification. The results of this study indicate that campaigns and advertisements that appeal to save electricity do not get a bad response from housewives because they are not supported by people around and lack of un-derstanding of saving energy. The factors that influence electricity usage inefficiently are the existence of in-come factors, demographics, trust, traditional buildings. While internal factors include laziness and habits. As well as the last is a lack of caring for the environment that affects inefficient use of electrical energy. Keywords electricity saving campaign, energy efficiency INTISARI. Hadirnya energi listrik di dalam kehidupan masyarakat merupakan salah satu hal penting yang mendukung pesatnya perkembangan kemajuan kehidupan sekarang. Hemat energi listrik bukan sekedar menghemat biaya pengeluaran, tetapi lebih jauh lagi dapat mencegah krisis pasokan listrik dan membantu me-nyelamatkan bumi dari kerusakan akibat pemanasan global lantaran pemakaian energi listrik yang berlebihan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kampanye hemat listrik terhadap efisiensi energi pada ibu rumah tangga yang bekerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Subjk dan informan penelitian ini berberjumlah 10 orang dan memiliki karakteristik sebagai ibu rumah tangga, bekerja, dan melakukan hemat lisitrik pada rumah tinggal. Metode pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara. Teknik analisis data menggunanakan metode interaktif yaitu reduksi data, menyajikan data, membuat kesimpulan dan virifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kampanye maupun iklan yang menghimbau untuk hemat energi listrik tidak mendapat respon yang kurang baik dari ibu rumah tanggah dikarenakan tidak didukung oleh orang sekitar dan kurang pemahaman akan hemat energi. Ada-pun factor-faktor yang mempengaruhi penggunaan listrik secara tidak efisien adalah adanya faktor pendapatan, demografi, kepercayaan, bangunan tradisional. Sedangkan faktor internal meliputi malas dan kebiasaan. Serta yang terakhir adalah factor kurangnya rasa peduli terhadap lingkungan sehingga mempengaruhi dalam pemakaian energi listrik secara tidak efisien. Kata kunci kampanye hemat listrik, efisisen energi Psikostudia Jurnal Psikologi Vol 7, No 2, Desember 2018, hlm. 71-81 72 1 PENDAHULUAN Hadirnya energi listrik di dalam kehidupan masyara-kat merupakan salah satu hal penting yang men-dukung pesatnya perkembangan kemajuan kehidupan sekarang. Penggunaan energi listrik merupakan unsur penting yang menunjang berbagai kegiatan dalam ke-hidupan masyarakat, baik itu untuk industri, rumah tangga, pendidikan, transportasi, penerangan, dan komunikasi Hilda, 2015. Listrik dapat memudahkan masyarakat beraktifitas akan tetapi apabila tidak digunakan dengan bijak akan dapat menimbulkan suatu kerugian. Pemborosan listrik yang dilakukan oleh pelanggan biasanya disebabkan karena pelanggan tidak memahami betapa pentingnya berhemat listrik demi kelangsungan hidup, seperti membiarkan listrik yang tidak digunakan tetap menyala. Setiap harinya kebutuhan akan listrik semakin ber-tambah, sehingga semakin bertambah pula kebutuhan akan energi listrik. Dengan bertambahnya kebutuhan akan energi listrik, maka seharusnya ketersediaan pasokan listrik harus bisa mengimbangi pertambahan permintaan akan penggunaan energi listrik agar masyarakat dapat melaksanakan segala aktifitas dengan baik. Penggunaan listrik yang tidak bijak tentu saja akan berdampak pada tingginya penggunaan listrik, hal ini juga mempengaruhi menipisnya persediaan energi listrik dikarenakan kebutuhan akan energi listrik lebih besar dari persediaan akan energi listrik, untuk itu diharapkan setiap masyarakat me-mahami upaya dalam menggunakan listrik dengan bi-jak. Selain itu setiap rumah tangga juga harus tahu besarnya penggunaan listrik di rumah tangga masing-masing. Pengeluaran energi terhadap total pengeluaran meningkat dengan kenaikan yang makin menurun sepanjang waktu Elkan, 1988. Tangga energi tidak harus dimulai dari bawah, tetapi tergantung kepada tingkat pendapatan rumah tangga itu sendiri. Dengan kata lain, terjadi transisi konsumsi energi dari energi tradisional ke energi modern. Selanjutnya, tangga en-ergi tidak secara kaku dinaiki secara vertikal, yaitu kenaikan pendapatan tidak menuju konsumsi ke satu sumber energi, melainkan pemakaian beberapa sum-ber energi secara bersamaan Sovacool, 2011. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral men-catat pada 2015 saja, konsumsi energi final sektor ru-mah tangga di Indonesia mencapai 111 juta barrel oil ekuivalen BOE, merupakan konsumen energi terbesar ketiga setelah sektor transportasi 260 juta BOE dan industri 229 juta BOE. Porsi konsumsi energi sektor rumah tangga ini mencapai 15% dari to-tal konsumsi energi final pada tahun tersebut. Peningkatan konsumsi energi listrik dengan pola menaiki tangga energi sampai menuju anak tangga terakhir lebih cenderung berpeluang terjadi di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah perdesaan. Hal ini terjadi di samping karena kenaikan pendapa-tan juga karena akses dan ketersediaan yang lebih mudah di daerah perkotaan dibandingkan dengan perdesaan, sehingga konsep tangga energi ini relatif lebih dekat hubungannya dengan urbanisasi Nazer, 2016 Sektor rumah tangga merupakan salah satu sektor pengguna energi listrik yang paling besar. Jumlah en-ergi listrik terjual pada tahun 2013 sebesar GWh, meningkat 7,79% dibandingkan tahun sebe-lumnya. Kelompok pelanggan Rumah Tangga mengkonsumsi energi sebesar GWh 41,17%, sektor industri GWh 34,33%, Bisnis GWh 18,40%, dan lainnya sosial, ge-dung pemerintah dan penerangan jalan umum GWh 6,11%. Penjualan energi listrik untuk semua jenis kelompok pelanggan yaitu Industri, Rumah Tangga, Bisnis dan Lainnya mengalami peningkatan masing-masing sebesar 6,99%, 7,04%, 1,33% dan 7,08%. Jumlah pelanggan PLN pada tahun 2013 untuk rumah tangga adalah pelanggan 92,81% dari total pelanggan PLN. Jumlah pelanggan untuk jenis R1 450VA, 900VA dan 1300VA ada sekitar pelanggan, dengan daya sambungan MVA, dan energi terjual MWh dan pendapatan Rp. Khu-sus untuk pelanggan R1 yang daya terpasangnya 450VA benjumlah pelanggan 70% dari total pelanggan pada sector rumah tangga [Statistik PLN 2013]. Pada sektor rumah tangga yang paling banyak dalam penggunaan listrik sehari-hari ialah ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga biasanya menggunakan energi listrik untuk menyelesaikan berbagai kegiatan rumah sehari-hari seperti mencuci, menyetrika, memasak, menonton, dan lain sebagainya untuk mempermudah kegiatan. Namun kebanyakan ibu rumah tangga be-lum menyadari pentingnya menggunakan energi secara efisien. Banyak faktor yang memengaruhi konsumsi energi rumah tangga, baik faktor ekonomi maupun non ekonomi. Menurut Daryoko 2015 di zaman yang serba modern seperti ini, hampir semua jenis alat yang menunjang aktifitas manusia baik alat penun-jang aktifitas rumah tangga sampai alat penunjang di dunia industri memanfaatkan energi listrik sebagai sumber energi. Psikostudia Jurnal Psikologi Vol 7, No 2, Desember 2018, hlm. 71-81 73 Beberapa penelitian memperlihatkan, bahwa jika pendapatan rumah tangga mengalami peningkatan, maka terjadi kenaikan konsumsi energi modern, sep-erti yang dikemukakan oleh Hosier dan Dowd 1987, Pacha-uri dan Spreng 2002, Gamtessa 2003, Len-zen et al. 2004, Barnes et al. 2004, Shittu et al. 2004, Cohen et al. 2005, Atanassov 2010, Bhattacharjee dan Richard 2011, Foysal et al. 2012, dan Estiri et al. 2013. Terdapatnya hub-ungan searah antara konsumsi energi modern dengan pendapatan rumah tangga menandakan bahwa energi modern masuk ke dalam kelompok barang normal. Selain pendapatan, variabel ekonomi lainnya yang menentukan konsumsi energi adalah harga energi dan harga peralatan rumah tangga Bhattacharjee dan Richard, 2011. Jika ditinjau dari faktor ekonomi maka ibu rumah tangga yang merasa mampu untuk membayar tagihan listrik maka cenderung tidak akan memperhatikan seberapa banyak listrik yang telah digunakan. Begitu-pun cara penggunaan listrik oleh ibu rumah tangga yang kerap kali tidak mematikan peralatan-peralatan elektronik yang mendukung pekerjaan rumah tangga. Kebanyakan ibu rumah tangga meninggalkan alat-alat elektronik menyala begitu saja tanpa setelah selesai digunakan. Berbagai kegiatan tersebut meru-pakan wujud dari penggunaan listrik yang tidak efisien. Menghemat listrik adalah suatu kegiatan yang dapat membuat konsumsi energi listrik berkurang. Hemat energi listrik bukan sekedar menghemat biaya penge-luaran, tetapi lebih jauh lagi dapat mencegah krisis pasokan listrik dan membantu menyelamatkan bumi dari kerusakan akibat pemanasan global lantaran pemakaian energi listrik yang berlebihan. Sebagai upaya nyata penghematan energi salah satunya adalah dengan peningkatan efisiensi penggunaan energi listrik. Proses atau tindakan yang dibutuhkan saat ini bukan hanya mematikan alat yang tidak sedang terpakai. PLN membutuhkan sebuah program atau yang biasa disebut sebagai budaya hemat listrik. Artinya masyarakat harus mulai jeli pada peralatan listrik yang dipakai sehari-hari. Misal-nya dengan menggunakan peralatan hemat energi watt kecil. Efisiensi energi selain berpengaruh pada pengu-rangan konsumsi energi, juga berpengaruh pada pen-gurangan pengeluaran operasional penghuni. Efisensi energi sangat potensial dilakukan di negara berkem-bang, dan sangat dipengaruhi oleh faktor pasar dan kebijakan publik Bodach, 2010. Penelitian ini dil-akukan di Brazil, yang dianggap mewakili karakteris-tik negara-negara berkembang. Penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk selalu menjadikan hemat energi sebagai budaya di masyara-kat. Dengan hemat energi maka pengeluaran pemerintah dan masyarakat akan energi bisa diku-rangi, dan ini membuat energi dapat digunakan dalam waktu yang panjang dan efisien Biantoro, 2017. In-tensitas energi merupakan salah satu ukuran yang ser-ing digunakan untuk melihat tingkat efisiensi energi dalam suatu sektor. Semakin kecil nilai intensitas en-ergi maka akan semakin efisien energi yang digunakan oleh suatu sektor Berbagai upaya dari pemerintah maupun pihak terkait untuk memberikan himbauan dan pelajaran bagi masyarakat untuk menghemat energi listrik dan men-jadikan penggunaan energi listrik lebih efisien. Dian-taranya ialah dengan melakukan kampanye mengenai pentingnya hemat energi. Tujuan dari kampanye ter-sebut yaitu melakukan perubahan perilaku yang di-harapkan, seperti menerima perilaku baru, dan me-nolak perilkau yang tidak di inginkan. Menurut Mowen dan Minor 2002 bahwa isi pesan merupakan merupakan strategi yang digunakan untuk mengkomunikasikan gagasan ke pemirsa. Pesan per-suasif inilah yang nantinya akan disalurkan ke target adopter melalui iklan layanan masyarakat, sosialisasi atau kampanye yang sering dilakukan oleh pemasar sosial. Dengan Kampanye hemat listrik diharapkan mampu memodifikasi kebiasaan untuk menjadi per-ilaku yang lebih baik dan meninggalkan perilaku lama yang buruk dalam penggunaan energi listik di rumah tangga. Bagaimana kampanye hemat energi yang telah dise-bar luaskan di masyarakat terutama pada sektor ru-mah tangga, mampu mengedukasi dan memberikan pemahaman terutama kepada ibu rumah tangga untuk menggunakan energi secara efisien. Hal tersebut penting untuk diteliti guna mengetahui bagaimana ibu rumah tangga terutama yang berkerja menunjukkan sikap efisiensi energi yang telah mengetahui kampa-nye hemat listrik. 2 TINJAUAN PUSTAKA Kampanye Hemat Listrik Menurut Handayani 2010, Penghematan terhadap energi efisiensi energi bukan berarti mengurangi segala aktifitas terkait penggunaan energi yang berdampak pada pengurangan kualitas hidup, seperti kenyamanan dan produktifitas kerja. Melainkan melakukan penghematan energi dengan mengopti-malkan penggunaan energi sesuai dengan tingkat kebutuhan. Psikostudia Jurnal Psikologi Vol 7, No 2, Desember 2018, hlm. 71-81 74 Efisiensi Energi Menurut Handayani 2010, efisiensi energy adalah penghematan pemakaian tenaga listrik. Penghematan terhadap energi efisiensi energi bukan berarti men-gurangi segala aktifitas terkait penggunaan energi yang berdampak pada pengurangan kualitas hidup, seperti kenyamanan dan produktifitas kerja. Melain-kan melakukan penghematan energi dengan men-goptimalkan penggunaan energi sesuai dengan ting-kat kebutuhan. 3 METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode fenomenologi. Menurut Craswell 2013 penelitian kualitatif merupakan metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan. Proses penelitian kualitatif ini melibatkan upaya-upaya pent-ing, seperti mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan prosedur-prosedur, mengumpulkan data yang spe-sifik dari para partisipan, menganalisa data secara in-duktif mulai dari tema-tema yang khusus ke tema-tema yang umum dan menafsirkan makna data. Pendekatan kualitatif diharapkan mampu menghasilkan uraian yang mendalam tentang ucapan, tulisan dan atau perilaku yang dapat diamati dari suatu individu, kelompok, masyarakat dan atau or-ganisasi tertentu dalam suatu setting konteks tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh, kompre-hensif dan holistik. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode fenomenologi. Menurut Iskandar 2008 penelitian fenomenologi berorientasi untuk me-mahami, menggali dan menafsirkan arti dan peri-stiwa-peristiwa, dan hubungan dengan orang-orang yang biasa dalam situasi tertentu. Ini biasa disebut dengan penelitian kualitatif dengan menggunakan pengamatan terhadap fenomena-fenomena atau gejala-gejala sosial yang alamiah yang berdasarkan kenyataan lapangan empiris. Penelitian fenomenologi ini bertujuan untuk mengungkapkan kekhasan atau keunikan karakteris-tik yang terdapat di dalam fenomena yang diteliti. Fe-nomena itu sendiri merupakan penyebab dil-akukannya penelitian fenomenologi, oleh karena itu tujuan dan fokus utama dari penelitian fenomenologi adalah pada fenomena yang menjadi obyek penelitian. Untuk itu segala sesuatu yang berkaitan dengan fenomena. Subjek Penelitian Sebagaimana dijelaskan oleh Arikunto 2007 subjek penelitian adalah subjek yang dituju untuk diteliti oleh peneliti. Sugiyono 2014 mengemukakan bahwa penentuan sampel dalam penelitian kualitatif naturalistik sangat berbeda dengan penentuan sampel dalam penelitian konvensional kuantitatif. Penentuan sampel tidak didasarkan perhitungan statistik. Sampel yang dipilih berfungsi untuk mendapatkan informasi yang maksimum, bukan untuk digeneralisasikan. Poerwandari 2008 juga mengatakan bahwa dengan fokus penelitian kualitatif pada kedalaman dan proses, maka penelitian kualitatif cenderung dilakukan dengan jumlah kasus sedikit. Prosedur pemilihan subjek penelitian dalam penelitian kualitatif pada umumnya mengikuti beberapa kaidah, antara lain a. Diarahkan tidak pada jumlah sampel yang besar, melainkan pada kasus-kasus tipikal sesuai kekhususan masalah penelitian b. Tidak ditentukan secara kaku sejak awal, tetapi dapat berubah baik dalam jumlah, maupun karakteristik sampelnya, sesuai dengan pemahaman konseptual yang berkembang dalam penelitian c. Tidak diarahkan pada keterwakilan melainkan pada kecocokan konteks Berdasarkan penjelasan diatas, maka penentuan subjek penelitian dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan secara jelas dan mendalam. Berikut merupakan karakteristik dan jumlah subjek yang digunakan dalam penelitian 1. Karakteristik Subjek Subjek penelitian ini adalah Ibu rumah tangga yang bekerja dan menggunakan energi listrik di rumah 2. Jumlah Subjek Penelitian Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah ber-jumlah lima orang sebagai subjek dan informan dari masing-masing subjek satu orang Metode Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan peneliti untuk mendapatkan data dalam suatu penelitian. Pada penelitian kali ini peneliti memilih jenis penelitian kualitatif maka data yang di-peroleh haruslah mendalam, jelas dan spesifik. Se-lanjutnya dijelaskan oleh Sugiyono 2012 bahwa pengumpulan data dapat diperoleh dari hasil ob-servasi, wawancara, dokumentasi, dan gabungan aau triangulasi. Pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wa-wancara, dan dokumentasi. Observasi Observasi merupakan salah satu bentuk dari metode yang diartikan sebagai aktivitas atau kegiatan Psikostudia Jurnal Psikologi Vol 7, No 2, Desember 2018, hlm. 71-81 75 mengamati perilaku individu atau objek penelitian yang direncanakan dan secara sistematis memilih tempat, prosedur dan pengukuran sebelum turun ke lapangan Arikutno, 2007. Dalam pengamatan ini peneliti mencatat, merekam, baik dengan cara ter-struktur maupun semi struktur aktivitas-aktivitas da-lam lokasi penelitian. Observasi atau pengamatan dilakukan dengan tujuan mendapatkan data dan suatu masalah secara visual sehingga diperoleh pemahaman terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Manfaat dari metode observasi yang dilakukan adalah untuk menilai kebenaran data dari kemungkinan adanya penimpangan atau biasa yang terjadi. Wawancara Wawancara dapat dipandang sebagai metode Wawancara adalah perbincangan yang menjadi sarana untuk mendapatkan informasi tentang sesuatu dengan tujuan adanya penjelasan atau pemahaman. Hasil wawancara merupakan suatu laporan subjektif tentang sikap seseorang terhadap lingkungan dan terhadap dirinya sendiri Arikunto, 2007. Wa-wancara dapat dilakukan face to face interview dengan partisipan, mewawancarai mereka dengan bertemu secara langsung, atau terlibat dalam focus group interview yang terdiri dari tiga sampai empat partisipan per kelompok. Wawancara dilakukan terhadap subjek penelitian, dan informan. Metode wawancara yang dilakukan adalah bentuk wawancara langsung dengan cara peneliti bertatap muka langsung dengan subjek dan informan, dengan kategori wawancara tidak terstruktur. Wawancara tidak terstuktur merupakan wawancara dimana pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan oleh interviewer merupakan pertanyaan yang sifatnya aksidental sesuai dengan suasana ketika wawancara berlangsung, akan tetapi berpegangan pada pedoman dan arah wawancara yang telah di buat Moleong, 2012. Dokumentasi Arikunto 2007 menyatakan dibanding dengan metode lain, maka metode ini agak tidak begitu sulit dalam arti apabila ada kekeliruan sumber datanya masih tetap, belum berubah. Dengan metode doku-mentasi yang diamati bukan benda hidup tetapi benda mati. Dalam penelitian ini dilakukan dokumentasi berupa materi audio menggunakan voice recorder. Teknik Analisis Data Metode analisis data kualitatif memiliki beberapa prosedur yang baku. Langkah-langkah yang diambil dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Hu-berman 2009 adalah sebagai berikut Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data dari berbagai sumber antara lain buku-buku yang rel-evan, informasi dan keterangan berupa pendapat, tanggapan, serta pandangan yang diperoleh dari in-forman. Sedangkan pengumpulan data melalui teknik wawancara. Data dikumpulkan oleh peneliti merupa-kan data-data yang dapat menunjang penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Dalam hal ini adalah data ten-tang bagaimana persepsi remaja mengenai pendidi-kan seks. Reduksi Data Reduksi data adalah proses pemilihan, pemfokusan dan penyederhanaan data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data yang relevan dengan masalah yang diteliti. Setelah data terkumpul dari hasil pengamatan, wawancara, catatan lapangan, serta bahan-bahan data lain yang ditemukan di lapangan dikumpulkan dan diklasifikasikan dengan membuat catatan-catatan ringkasan, mengkode untuk menyesuaikan menurut hasil penelitian. Data yang telah disederhanakan dan dipilih kemudian disusun secara sistematis ke dalam suatu unit dengan sifatnya masing-masing data dengan menonjolkan hal-hal yang bersifat pokok dan penting. Unit-unit data yang telah terkumpul dipilah-pilah kembali dan dikelompokkan sesuai dengan kat-egori yang ada sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas dari hasil penelitian. Penyajian Data Penyajian data adalah penyajian data ke dalam sejumlah matriks yang sesuai. Matriks-matriks pen-yajian data tersebut digunakan untuk memudahkan pengkonstruksian dalam rangka menentukan, me-nyimpulkan dan menginterpretasikan data. Selain itu juga berfungsi sebagai daftar yang bisa secara ringkas dan cepat menunjukkan cakupan data yang telah dik-umpulkan, bisa dianggap masih kurang atau belum lengkap, dapat segera dicari kembali datanya pada sumber yang relevan. Data yang sudah dikelompok-kan dan sudah disesuaikan dengan kode-kodenya, kemudian disajikan dalam bentuk tulisan deskriptif agar mudah dipahami secara keseluruhan dan juga dapat menarik kesimpulan untuk melakukan penganalisisan dan penelitian selanjutnya. Kesimpulan atau Verifikasi Hasil penelitian yang telah terkumpul dan terangkum harus diulang kembali dengan mencocokkan pada re-duksi data dan penyajian data, agar kesimpulan yang telah dikaji dapat disepakati untuk ditulis sebagai laporan yang memiliki tingkat kepercayaan yang benar. Psikostudia Jurnal Psikologi Vol 7, No 2, Desember 2018, hlm. 71-81 76 Teknik Keabsahan Data Keabsahan data dalam sebuah penelitian kualitatif sangat penting. Melalui keabsahan data kredibilitas kepercayaan penelitian kualitatif dapat tercapai. Yin 2014 mengajukan empat kriteria keabsahan data yang diperlukan dalam suatu penelitian pendekatan kualitatif. Empat hal tersebut adalah sebagai berikut Keabsahan Konstruk Keabsahan bentuk batasan berkaitan dengan suatu kepastian bahwa yang berukur benar- benar merupa-kan variabel yang ingin diukur. Keabsahan ini juga dapat dicapai dengan proses pengumpulan data yang tepat. Salah satu caranya adalah dengan proses trian-gulasi, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding ter-hadap data itu. Menurut Sugiyono 2017, terdapat tiga jenis triangu-lasi, yakni a. Triangulasi Sumber Triangulasi sumber untuk mengkaji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. b. Triangulasi Teknik Triangulasi teknik untuk mengkaji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misal data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi dan dokumentasi. c. Triangulasi Waktu Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wa-wancara di siang hari pada saat narasumber tidak sibuk dengan orang yang ingin berobat, belum banyak masalah akan memberikan data yang lebih valid sehingga kredibel. Pengujian keabsahan data dapat dilakukan dengan cara melakukan pen-gecekan dengan wawancara, observasi, atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang hingga sampai ditemukan kapasitas datanya. Keabsahan Internal Keabsahan internal merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh kesimpulan hasil penelitian menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Ke-absahan ini dapat dicapai melalui proses analisis dan interpretasi yang tepat. Aktivitas dalam melakukan penelitian kualitatif akan selalu berubah dan tentunya akan mempengaruhi hasil dari penelitian tersebut. Walaupun telah dil-akukan uji keabsahan internal, tetap ada kemung-kinan munculnya kesimpulan lain yang berbeda. Keabsahan Eksternal Keabsahan ekternal mengacu pada seberapa jauh hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada kasus lain. Walaupun dalam penelitian kualitatif memiliki sifat tidak ada kesimpulan yang pasti, penelitiaan kualitatif tetapi dapat dikatakan memiliki keabsahan ekternal terhadap kasus-kasus lain selama kasus ter-sebut memiliki konteks yang sama. Reliabilitas Keajegan merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh penelitian berikutnya akan mencapai hasil yang sama apabila mengulang penelitian yang sama, sekali lagi. Dalam penelitian ini, keajegan mengacu pada kemungkinan peneliti selanjutnya me-meperoleh hasil yang sama apabila penelitian dil-akukan sekali lagi dengan subjek yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa konsep keajegan penelitian kualitatif selain menekankan pada desain penelitian, juga pada cara pengumpulan data dan pengolahan data. 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Wawancara Ketika melakukan wawancara dengan subyek penelitian, peneliti melakukan wawancara dan berinteraksi sesering mungkin dengan subyek untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat mengenai apa yang hendak diungkap dalam penelitian ini. Sebe-lum dilakukan wawancara peneliti melakukan pen-dekatan dengan subyek penelitian serta mencari secara acak subyek penelitian sesuai dengan karakter-istik subyek yang diperlukan. Dalam proses wawancara, subyek menjawab semua pertanyaan yang diajukan peneliti dengan lancar tanpa adanya hambatan komunikasi. Psikostudia Jurnal Psikologi Vol 7, No 2, Desember 2018, hlm. 71-81 77 Sikap Terhadap Kampanye Hemat Listrik Tabel 1. Hasil wawancara aspek dari variabel kampanye hemat listrik Menyadari pentingnya menghemat pemakaian listrik namun tidak men-gaplikasikannya dalam ke-hidupan sehari -hari. Berpikir bahwa orang lain lebih bo-ros terhadap pemakaian listrik Menyadari namun malas untuk melakukannya dan terkadang lupa. Mengetahui cara untuk menghemat listrik Kurangnya pemahaman terhadap penghematan listrik. Mengetahui cara ter-sebut namun mem-ilih untuk acuh ter-hadap lingkungan. Melaksanakan tindakan un-tuk menghemat listrik. Tidak perduli dengan penggunaan listrik anggota keluarga lain Sengaja tidak melakukan penghe-matan listrik karena adanya keyakinan. Efisiensi energi Tabel 2. Hasil wawancara aspek dari variabel efisiensi energi baik Proses de-sain terin-tegrasi Desain rumah me-nyebabkan penggunaan energi digunakan secara berlebihan Tidak memiliki ventilasi dan jen-dela yang me-madahi sehingga pencahayaan ku-rang baik Memiliki bangunan rumah yang terbuat dari kayu namun pada beberapa ru-angan tidak mem-iliki jendela Bangunan beton membuat suhu ru-angan menjadi lebih panas Letak bangunan yang kurang strate-gis karena tertutup oleh bangunan lain Pilihan ma-terial dan teknologi Pemilihan material, alat dan barang yang tidak efisien Penempatan ba-rang-barang yang kurang baik Menggunakan lampu dengan watt kecil Mengutamakan ba-rang elektronik bukan berdasarkan faktor kehema-tannya Cuaca mempengaruhi pemakaian energi listrik Menggunakan lampu saat siang hari dan pendingin ruangan meskipun hujan Tetap menyalakan pendingin ruangan meskipun cuaca se-dang dingin Operasional perawa-tan barang-barang ja-rang dilakukan Membiarkan tv maupun barang-ba-rang elektronik lainnya tetap menyala meskipun tidak digunakan Tidak dapat me-manfaatkan penggunaan jendela Menggunakan jendela untuk mendapat-kanudara segar dan pencahayaan Kesadaran dan kepedu-lian Memiliki kesadaran dan kepedulian ter-hadap efisiensi en-ergi namun tidak di-wujudkan dalam suatu perbuatan konkret Menyadari bahwa beban biaya listrik terlalu banyak Menunjukkan kepedulian hanya ketika meng-ingatnya. Namun la-bih banyak merasa malas Sadar bahwa telah melakukan pem-borosan dalam penggunaan listrik namun tidak melakukan apapun Psikostudia Jurnal Psikologi Vol 7, No 2, Desember 2018, hlm. 71-81 78 Pembahasan Perilaku masyarakat dalam melakukan hemat energi listrik ditentukan oleh karakteristik dari masyarakat itu sendiri. Perilaku tersebut juga dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal yang ada pada masyara-kat. Kesadaran seseorang dalam proses berpikir akan membentuk pola berpikir yang positif, serta dapat bertanggung jawab akan keadaan lingkungannya yang dapat dilakukan dengan tindakan merawat, melindungi, menjaga, dan melestarikan alam. Kesadaran dan tanggung jawab masyarakat yang be-ragam dikarenakan karakteristik seseorang dan akses informasi yang didapat berbeda-beda. Perilaku juga di tentukan oleh norma personal seseorang dalam ke-hidupannya yang terbentuk karena kepribadian dan lingkungan sosial yang ada di sekitarnya. Terciptanya kesadaran, tanggungjawab, dan norma personal da-lam masyarakat dapat membentuk keinginan dari masyarakat untuk melakukan suatu tindakan yang positif yaitu untuk menghemat energi listrik. Penelitian ini mengangkat tema tentang kampanye hemat listrik terhadap efisiensi energi pada ibu rumah tangga yang bekerja pengertian mengenai kampanye hemat listrik adalah sebuah tindakan komunikasi kepada khalayak ramai yang bertujuan untuk mempengaruhi, mengajak, serta mendapatkan dukungan dalam upaya hemat energy listrik, sedangkan seruan atau ajakan dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai media seperti media sosial, televise, Koran atau poster. Usaha kampanye itu sendiri bisa dilakukan oleh perorangan atau sekelompok yang terorganisir. Sedangkan pengertian efisiensi energy adalah Penghematan Pemakaian Tenaga Listrik. Penghematan terhadap energi bukan berarti mengurangi segala aktifitas terkait penggunaan energi yang berdampak pada pengurangan kualitas hidup, seperti kenyamanan dan produktifitas kerja. Melainkan melakukan penghematan energi dengan mengoptimalkan penggunaan energi sesuai dengan tingkat kebutuhan. Berikut ini pembahasan tentang factor-faktor yang mempengaruhi subyek dalam menggunakan energy listrik secara tidak efisien. 1. Subyek N Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan subyek N, factor-faktor yang mempengaruhi penggunaan listrik yang tidak efisien pada subyek N yang pertama factor penda-patan, subyek mengatakan bahwa pada saat itu subyek tinggal di rumah dinas sehingga ia tidak merasa membayar listrik dan menggunakannya semau subyek, sedangkan dirumah yang saat ini subyek mengeluhkan biaya pembayaran listriknya, namun ia tidak merubah perilakunya untuk lebih hemat dan efisien. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh pendapatan subyek yang mampu membayar biaya tagihan listrik meskipun mahal. Factor yang kedua adalah kurangnya kesadaran dan kepedulian terhadap peralatan elektronik yang dimiliki dan kesadaran untuk menjaga lingkungan, hal tersebut seperti yang dikatakan oleh subyek bahwa saat dirumah dinas AC selalu menyala bahkan sampai menetes-netes bocor dan subyek membiarkan hal tersebut terjadi selama subyek tinggal di rumah dinas. Subyek juga mengatakan bahwa ia mematikan peralatan listrik ketika ia mengingat untukberhemat, jika tidak maka peralatan tersebut dibiarkan menyala. Perilaku ter-sebut merupakan perilaku ketidakpedulian subyek terhadap lingkungan maupun peralatan elektronik. Subyek juga mengatakan bahwa desain rumahnya mempengaruhi karena pada rumah subyek bagian dapur tidak memiliki jendela hal tersebutlah yang menyebabkan subyek juga untuk terus menya-lakan lampu baik malam maupun siang hari. Tidak hanya desain rumah iklim juga mempengaruhi subyek terutama pada siang hari dan cuaca panas sehingga mempengaruhi untuk menyalakan semua peralatan seperti AC dan kipas angin. 2. Subyek S Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan subyek S, factor-faktor yang mempengaruhi penggunaan listrik yang tidak efisien pada subyek S yang pertama factor penda-patan, dimana subyek S merupakan seorang wirausaha sehingga ia merasa tidak keberatan da-lam membayar tagihan listrik meskipun menurut ia biaya tagihan listriknya mahal. Selain factor pendapatan factor lain yang mempengaruhi perilaku tidak efisien pada subyek S adalah factor dalam diri dimana subyek sering lupa untuk mematikan peralatan listriknya, hal ter-sebut terjadi secara berulang-ulang sehingga men-jadi sebuah kebiasaan subyek dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat subyek mengingat untuk me-matikan listrik terkadang subyek merasa malas un-tuk mematikan, hal tersebut biasanya terjadi pada subyek ketika ia sedang berada diluar rumah, subyek juga mengatakan ia sering ketiduran di de-pan TV dalam keadaan TV menyala dan tidak ada yang mematikan sampai akhirnya subyek merasa biasa saja dengan hal tersebut. Peralatan elektronik lainnya yang di biarkan menyala adalah lampu kamar dan kipas ia menga-takan bahwa mematikannya pada saat ia ingin me-matikannya jika tidak alat tersebut dibiarkan menyala. Selain itu desain rumah subyek juga mempengaruhi dimana subyek memiliki rumah Psikostudia Jurnal Psikologi Vol 7, No 2, Desember 2018, hlm. 71-81 79 dan memiliki jendela namun jendela tersebut tidak bisa dibuka. Subyek juga mengatakan bahwa iklim mempengaruhi pada saat mendung ia akan lebih sering menyalakan lampu dan pada saat musim panas ia akan lebih sering untuk menyalakan kipas. 3. Subyek I Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan subyek I, factor-faktor yang mempengaruhi penggunaan listrik yang tidak efisien pada subyek I yang pertama factor demo-grafi, factor demografi merupakan factor yang meliputi jumlah anggota rumah tangga, usia kepala rumah tangga, jenis kelamin kepala rumah tangga, dan status perkawinan. Subyek menga-takan bahwa saat anggota keluarganya berkumpul maka penggunaan energy juga meningkat, selain banyaknya anggota keluarga usia juga mempengaruhi pemakaian sehingga pada saat berkumpul keluarga ia tidak dapat menghemat en-ergy listrik. Factor kedua adalah kurangnya kesadaran diri pada subyek, pada saat dilakukan wawancara subyek mengatakan bahwa ia sudah berhemat, na-mun pengeluaran biaya pembayaran listrik tetap sama dan tidak ada perubahan, hal ini dikarenakan perasaan subyek yang mengatakan bahwa ia telah berhemat namun perilakunya tetap sama dalam menggunakan listrik. 4. Subyek A Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan subyek A, factor-faktor yang mempengaruhi penggunaan listrik yang tidak efisien pada subyek A yang pertama factor penda-patan, dimana subyek merasa tidak membayar tagihan listrik karena yang menanggung biaya ter-sebut adalah suaminya selain itu subyek menga-takan bahwa ia memiliki peralatan elektronik ya memang untuk digunakan, hal ini juga karena ku-rangnya rasa kepedulian terhadap alat elektronik yang dimiliki. Factor yang kedua adalah factor demografi dimana menurut subyek penggunaan energi listrik akan se-makin meningkat jika semakin banyak anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Factor ketiga yaitu factor kepercayaan, dimana subyek percaya dengan orang pintar yang mengatakan bahwa mahluk-mahluk halus akan berdatangan ke-rumahnya jika rumah tersebut gelap. Karena adanya hal tersebut membuat subyek selalu menyalakan lampu baik malam maupun siang hari. Factor keempat yang pempengaruhi adalah factor bangunan lama dimana rumah subyek merupakan rumah panggung. Penuturan dari subyek tentang rumah yang ditinggali saat ini memiliki pelapon yang kurang tinggi. sehingga memang harus menyalakan lampu meski disiang hari Dari hasil wawancara dan observasi yang telah dil-akukan pada keempat subyek dan keempat informan, peneliti menemukan bahwa mereka sudah melihat kampanye maupun iklan yang menghimbau untuk hemat energi listrik namun tidak merespon atau mem-perdulikan adanya himbauan tersebut sehingga mereka tetap menggunakan listrik secara tidak efisien, setelah diakukan wawancara mendalam, faktor yang menyebabkan mengapa ibu rumah tangga yang bekerja tidak menggunakan listrik secara efisien di sebabkan oleh beberapa factor berikut, dari keem-pat subyek yang memenuhi factor-faktor tersebut adalah 1. Faktor pendapatan Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan keempat subyek, subyek yang memenuhi factor pendapatan adalah subyek N, subyek S, dan subyek A. Mereka mengatakan bahwa tidak me-rasa terbebani dengan biaya pembayaran listrik selama ini, sehingga membuat mereka menjadi ke-biasaan dalam menggunakan energi secara boros atau tidak efisien. Hal tersebut juga didukung oleh pernyataan informan bahwa yang membayar untuk tagihan listrik adalah sang suami, mereka juga lebih sering mengunakan listrik semau mereka, demi mendapatkan kenyaman. 2. Faktor demografi Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan keempat subyek, subyek yang memenuhi factor demografi adalah subyek I dan A. mereka menyatakan bahwa yang mempengaruhi mereka dalam menggunakan energy listrik adalah factor demografi yang didalamnya mencakup jumlah anggota keluar, dan usia dari setiap anggota, ka-rena semakin dewasa semakin meningkat pemakaian energy listriknya, begitupun dengan jumlah anggota keluarga, semakin banyak anggota keluarga maka semakin banyak juga pemakaiannya. 3. Faktor kepercayaan Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan keempat subyek, subyek yang memenuhi factor kepercayaan adalah subyek A, ia menga-takan bahwa pemakaian listrik yang tidak efisien pada dirinya karena adanya faktor kepercayaan. Subyek mengatakan bahwa jika rumah gelap bisa saja mengundang mahluk halus, sehingga untuk menghindari hal tersebut ia lebih sering menya-lakan lampu dari pada mematikan lampu. Hal tersebut juga didukung dengan pernyataan sang suami bahwa lampu yang ada dirumahnya Psikostudia Jurnal Psikologi Vol 7, No 2, Desember 2018, hlm. 71-81 80 memang tidak pernah di matikan karena adanya hal-hal yang primitive, sehingga keluar subyek percaya dan tetap menyalakan lampu di siang hari. 4. Faktor internal Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan keempat subyek, subyek yang memenuhi factor internal atau factor dalam diri adalah subyek N, subyek S dan subyek I, mereka mengatakan bahwa penggunaan energy yang kurang efisien disebabkan juga oleh factor internal, seperti factor malas dan kebiasaan menurut penuturan dari subyek S ia sering tidak efisien karena lupa se-hingga ia malas untuk kemabali dan mematikan lampu tersebut. Adanya perilaku tersebut mem-bentuk perilaku dari subyek S menjadi kebiasaan tidak mematikan peralatan listriknya. Sedangkan hasil wawancara yang dilakukan dengan subyek I menyatakan bahwa ia merasa su-dah berhemat dari pada penggunaan ibu rumah tangga yang lain, hal tersebut juga membuat subyek biasa saja terhadap energy yang digunakan. 5. Kurangnya kesadaran dan kepedulian Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan keempat subyek subyek yang memenuhi factor Kurangnya rasa kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan adalah subyek N, subyek S dan subyek I, hal tersebut seperti yang dikatakan oleh subyek N bahwa ia tidak merasa membayar listrik pada saat dirumah dinas sehingga sering menggunakan listrik secara berlebihan seperti pemakaian AC yang tidak pernah mati dalam 24 jam setiap harinya walau pun ia tidak berada diru-mah atau pun sedang bekerja. Sedangkan subyek S ia tidak merasa membayar tagihan listrik karena untuk pembayaran listrik suaminya yang menanggung, begitupun dengan subyek I dimana ia merasa telah berhemat, namun perilaku yang ditunjukan selama ini tetap sama, dan pembayaran tagihan listrik pun sama. Dari penjelasan diatas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan energy listrik pada ibu rumah tangga yang bekerja, maka dapat disimpulkan bahwa adanya faktor pendapatan, faktor demografi, faktor kepercayaan, faktor bangunan tradisional, faktor internal yang meliputi faktor malas dan kebia-saan. Serta yang terakhir adalah faktor kurangnya rasa peduli terhadap lingkungan, sehingga mempengaruhi dalam pemakaian energy listrik secara tidak efisien. 5 PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dan hasil penelitian melalui analisis kualitatif yang telah dilakukan pada ibu ru-mah tangga yang bekerja dengan judul kampanye hemat listrik terhadap efisiensi energi di rumah tangga, maka dapat disimpulkan beberapa hal berikut 1. Dari hasil analisis tersebut kebanyakan ibu rumah tangga sudah melihat kampanye maupun iklan yang menghimbau untuk hemat energi listrik na-mun tidak merespon atau tidak memperdulikan adanya himbauan tersebut sehingga mereka tetap menggunakan listrik secara tidak efisien. Hal ter-sebut dikarenakan kurang efektifnya kampanye atau tayangan iklan sehingga tidak dapat mempengaruhi ibu rumah tangga dalam menggunakan energy listrik. 2. Peneliti telah melakukan wawancara yang men-dalam terhadap subyek, dan setelah di analisis maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan listrik secara tidak efisien adalah adanya faktor pendapatan, faktor demografi, faktor kepercayaan, faktor bangunan tradisional, faktor internal yang meliputi faktor malas dan kebiasaan. Serta yang terakhir adalah factor kurangnya rasa peduli terhadap lingkungan, sehingga mempengaruhi dalam pemakaian energi listrik secara tidak efisien. Saran Berdasarkan dalam penelitian ini, maka saran yang dapat diberikan adalah 1. Bagi ibu rumah tangga Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Ibu rumah tangga banyak yang menggunakan energi listrik secara tidak efisien oleh karena itu disaran kan untuk mulai menggunakan energi dengan hemat dan menanamkan perilaku efisiensi energi sebagai upaya peduli terhadap lingkungan sekitar. 2. Bagi peneliti Bagi penelitian selanjutnya peneliti dapat mengembangkan penelitian ini dengan menam-bahkan jumlah variable yang lebih banyak dan menambahkan faktor lain yang dapat mempengaruhi penggunaan energi baik pada ibu rumah tangga maupun anggota keluarga lainnya. Serta memperluas penelitian baik disektor rumah tangga, pemerintahan maupun disektor industri. Psikostudia Jurnal Psikologi Vol 7, No 2, Desember 2018, hlm. 71-81 81 6 DAFTAR PUSTAKA Arikunto, S., 2007, Prosedur Penelitian Suatu Pen-dekatan Praktek Edisi Revisi VI hal 134, Rineka Apta, Jakarta Arikunto, S. 2010. Prosedur penelitian Suatu Pen-dekatan Praktik. Edisi Revisi. Rineka Cipta Ja-karta Ardiansyah, Azwar. 2013. Kampanye Hemat Energi Listrik Melalui PT. PLN Distribusi Jawa Timur Karya Desain grafis Di Kota Surabaya. Jurnal visual Art. 1125-30 Azwar, S. 2011. Metode Peneletian. Pustaka Pelajar Yogyakarta Bhattacharjee, S. & Reichard, G. 2011. Socio-Eco-nomic Factors Affecting Individual Household Energy Consumption A Systematic Review. Proceeding soft the ASME 2011 5th International Conference on Energy Sustainability, Washing-ton, DC, USA. The American Society of Mechan-ical Engineers ASME 7-10 Bodach, Susanne, J. Hamhaber. 2010. Energy Effi-ciency in Social Housing Opportunities and Bar-riers. Journal A Case Study in Brazil, Energy Policy. 38127898-7910 Creswell W. Jhon. 2013. Research Design Pendeka-tan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed. Pustaka Pelajar Yogyakarta Elkan, W. 1988. Alternatives to Fuelwood in Afri-can Towns. Journal World Development, 164, 527–533. Handayani, Efisiensi Energi dalam Rancang Bangunan. Jurnal Spektrum Imami Nur Rachmawati. 2007. Pengumpulan Data Dalam Penelitian Kualitatif Wawancara. Jurnal keperawatan Indonesia. 11135-40 Iskandar. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial Kuantitatif dan Kualitatif. GP Press Jakarta Kotler P. 2010. Marketing Dian Wulandari, Pen-erjemah. Erlangga Jakarta Kotler, Philip and Lee Nancy. 2008. Social Market-ing; Influencing Behaviors for Good, Third Edi-tion. California Sage Publications, Inc. Kementerian ESDM. 2008. The Study on Energy Conservation and Efficiency Improvement in the Republic of Indonesia. Join with JICA –MEMR Republic of Indonesia McQuail, Denis. 1989, Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Erlangga. Jakarta Milles, Matthew B. & A Michael Huberman. 2009. Analisis Data Kualitatif. UI-Perss Jakarta Misnawati, Indah Tri. 2013. Strategi Komunikasi Pada Kampanye Perlindungan Orangutan oleh LSM Centre for Orangutan Protection COP di Samarinda, Kalimantan Timur. Journal lmu Komunikasi. 14135-149. Mowen, John C, and Minor Michael. 2002. Perilaku Konsumen Jilid 1, Edisi Kelima. Penerbit Er-langga Jakarta Nazera. Muhammad, dan Hefrizal Handraa. 2016. Analisis Konsumsi Energi Rumah Tangga Perkotaan di Indonesia Periode Tahun 2008 dan 2011. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indo-nesia. 162141-153. Nuradi. 1996. Kamus Istilah Periklanan Indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta Perusahaan Listrik Negara Persero. Buku Statistik PLN 2013. Dapat diakses di http//www. Poerwandari, K. 2007. Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi. JakartaPSP3 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Prianto, E. 2016. Audit Energi Pada Rumah Tinggal Ber Arsitektur Konvensional dan Modern. Jurnal PPKM. II 121-135 Prianto, E, 2007. Rumah Tropis Hemat Energi Ben-tuk Keperdulian Global Warming. Jurnal RIPTEK. 111-10. Rogers, E. M., & Storey J. D. 1987. Communication Campaign. Dalam C. R. Berger & Chaffe Eds., Handbook of Communication Science, New Burry Park; Sage. Ruslan, Rosady. 1997. Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations. PT. Rajagrafindo Persada Ja-karta Sovacool, Dhakal, S., Gippner, O., dan Bam-bawale, 2011, Halting Hydro A Review of The Social-Technical Barriers to Hydroelectric Power Plants in Nepal, Energy. 36.363468-3476 Sugiyono, 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi Mixed Methods. Alfabeta Bandung Walker, W. 1985. Information Technology and the Use of Energy. Journal Energy Policy. 135458–476. Yin, Robert K., 2014, Studi Kasus Desain & Metode, Rajawali Pers, Jakarta. ... Rumah tangga dengan tingkat pendapatan yang tinggi mampu untuk membayar biaya tagihan listrik dalam rumah tangga meskipun mahal biaya yang dikeluarkannya. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tingginya tingkat pendapatan rumah tangga maka akan semakin tinggi intensitas penggunaan energi listriknya yang dicerminkan dengan mahalnya biaya listrik yang dikeluarkan Fitriani et al., 2019. Fitriani et al., 2019. ...... Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tingginya tingkat pendapatan rumah tangga maka akan semakin tinggi intensitas penggunaan energi listriknya yang dicerminkan dengan mahalnya biaya listrik yang dikeluarkan Fitriani et al., 2019. Fitriani et al., 2019. ...... Hasil regresi linear berganda menunjukkan bahwa pada awalnya variabel usia KRT berpengaruh negatif dan signifikan, namun setelah dilakukannya transformasi kuadratik pada variabel usia KRT yang bertujuan untuk menyamakan nilai parameternya, maka variabel usia KRT menjadi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap intensitas penggunaan energi listrik sektor rumah tangga perkotaan di Sumatera Barat. Hasil temuan pada penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Fitriani et al., 2019 yang menyatakan bahwa semakin bertambah usia KRT maka akan semakin meningkat penggunaan energi listriknya. Hal ini mungkin disebabkan karena semakin lamanya waktu yang dihabiskan dalam berkegiatan didalam rumah sehingga intensitas penggunaan energi listrik dalam rumah tangga meningkat. ...Sabri Sabri Joan MartaSelli NelondaThis study analyzes the socio-economic effect on the efficiency of electrical energy use in the urban household sector in West Sumatra Urban Area Case Study in 2020. The results of this study explain that the variables of per capita expenditure, education, employment status, age, and communication technology have a positive effect on the intensity of electrical energy use. While the variable of building ownership status is the only variable that has a negative effect on the intensity of electricity use in the urban household sector in West Sumatra. The decrease in the intensity of the use of electrical energy in the urban household sector in West Sumatra reflects the condition of efficiency in the use of electrical energy. On the other hand, the increase in the intensity of use of electrical energy in the urban household sector in West Sumatra reflects conditions in the efficient use of electrical energy.... The existence of electrical energy in people's lives is an important factor that supports the rapid development of life today Fitriani et al., 2019. Based on World Bank data, in 2014, the average Indonesian population used 800 kWh of electrical energy per year IEA Statistics, 2014. ...... Higher than the Philippines, Cambodia and Myanmar. The use of electricity that is not wise will certainly have an impact on Step of the Research, which will also have an impact on the depletion of energy supplies Fitriani et al., 2019;Sakah, 2019. ...Fachri HidayahFitriyyatul Muslihah Indri NuraidaMuhammad AzizThe used of electricity from year to year is increasing. One of the alternative to power plants with abundant availability is wood waste. The aims of this study is to 1 design a wood waste PLTU prototype as an alternative biomass-based energy resource and an effort to reduce wood waste, 2 describe the calorific value, the resulting electrical voltage, and the duration of the lamp flame generated from wood waste fuel. Teak Tectona grandis, surian wood waste Toona sureni, and a mixture of both. This descriptive research includes 3 stages, which is analysis, design, and testing. Through this research, a prototype of a wood waste steam power plant was successfully designed by utilizing biomass waste fuel. The results showed that the calorific value, the resulting electrical voltage, and the resistance time of the lamp varied in the wood samples used. This indicates that the wood samples used have the potential to be used as an alternative to biomass-based energy resources.... Energi listrik sulit untuk mengalami pembaruan karena semakin terbatasnya jumlah bahan bakar fosil . Sehingga setiap masyarakat diharapkan bijak dalam penggunaan listrik Permatasari et al, 2018. Listrik yang dialirkan pada setiap rumah terdiri dari sebuah sambungan jaringan listrik hingga ke atap rumah konsumen melalui tiang listrik. ...I Ketut MahardikaSinggih BaktiarsoRoifatul MasrurohSri HandayaniDalam kehidupan modern, listrik menjadi salah satu kebutuhan yang utama untuk menunjang aktivitas manusia setiap harinya. Namun dalam penggunaannya, sering kali terjadi pemborosan akibat pemasangan lampu yang memiliki daya listrik yang tinggi. Semakin besar daya yang dibutuhkan oleh lampu untuk menyala maka energi listrik yang dihasilkan juga semakin besar sehingga hal ini menyebabkan terjadinya lonjakan dalam tagihan listrik. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan yaitu metode eksperimen secara kuantitatif yang datanya bersumber dari data primer atau data yang didapat dalam penelitian secara langsung. Hasil dari penelitian ini yaitu penggunaan Elco pada lampu led mampu menurunkan daya listrik pada sebuah lampu dengan tegangan yang sama. Ukuran kapasitor juga mempengaruhi presentase penurunan daya pada lampu led. Semakin besar kapasitornya maka daya yang dihasilkan semakin kecil. Kesimpulannya elco mampu mengurangi daya listrik pada sebuah lampu led pada tegangan 400 volt meskipun nyala lampu yang dihasilkan pada ketiga kapasitor berbeda.... Energi listrik merupakan kebutuhan dasar manusia untuk menunjang aktivitas ekonomi, pendidikan dan sosial dalam kehidupan masyarakat Fitriani et al., 2019;Putri & Sari, 2014. Aktivitas manusia dalam segala aspek hampir seluruhnya selalu didukung oleh peralatan elektronik. ...Khusniyati MasykurohDara FatmilatunPerilaku hemat energi perlu ditanamkan pada anak usia dini, namun media pembelajaran terkait materi tersebut masih terbatas. Berdasarkan masalah tersebut, diperlukan media pembelajaran berupa video animasi yang dapat menanamkan perilaku hemat energi listrik pada anak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media video animasi hemat energi listrik pada anak usia dini agar anak usia dini paham mengenai pentingnya perilaku hemat energi listrik. Studi ini menggunakan Penelitian dan Pengembangan atau biasa disebut R&D dengan model ADDIE. Validitas media pembelajaran video animasi diuji serta dinilai oleh ahli materi, ahli media, guru dan orangtua kelas A TK Tahfidz YAMABI Buaran. Hasil presentase dari ahli materi mendapatkan skor 92% dengan kategori “sangat valid”, presentase dari ahli media dengan skor 94% dengan kategori “sangat valid”,. Selanjutnya hasil uji coba media video animasi dari guru TK Tahfidz YAMABI mendapat skor sebesar 94% dengan kategori “sangat valid”, kemudian penilaian dari 12 orang tua siswa memperoleh presentase skor sebesar 93% dengan kategori “sangat valid”. Berdasarkan hasil uji validasi dan uji kelayakan tersebut dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran video animasi tentang hemat energi listrik dapat dikategorikan “sangat valid” dan layak digunakan sebagai media pembelajaran untuk anak usia dini.... Mengendalikan penggunaan energi penting diperhatikan, dan dilakukan secara kontinyu untuk keberlangsungan pemanfaatan energi secara merata. Energi yang utama digunakan oleh masyarakat umum terutama rumah tangga salah satunya listrik, untuk kebutuhan sehari-hari, menyalakan peralatan listrik dan mengoptimalkan kebutuhan, Fitriani et al., 2019 energi listrik digunakan untuk mempermudah aktivitas dalam rumah tangga sehari-hari seperti mencuci, menyetrika, memasak, menonton, dan lain sebagainya. Yuliani, Febri, 2014 juga menyatakan masih ada kendala dalam persepsi publik dan kurangnya sosialisasi penghematan energi. ... Johni Paul Karolus PasaribuThe purpose of this research is to measure people's purchasing power in the use of electrical energy with household involvement and economy. The research method using clusters and using a questionnaire as a medium to collect information, the sample used is 100 households. The results of the study show that only purchasing power in the price is significant in the household economy, prices and income are significant in the involvement, significant involvement in the household economy. Indirectly only prices and income in purchasing power are significant to the household economy through the involvement of management and use of electrical energy. Imami RachmawatiAbstrakAda beberapa metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, yang paling sering digunakan adalah wawancara. Artikel ini menggambarkan wawancara sebagai metode pengumpulan data termasuk jenis wawancara, jenis pertanyaan, lama waktu wawancara, dan prosedur melakukan wawancara. Tujuan penulisan artikel ini adalah memperkenalkan metode wawancara kepada pembaca agar dapat menentukan metode wawancara sesuai dengan metodologi penelitian dan melakukannya dengan benar. AbstractThere are several data collecting methods in the qualitative research, most common used namely interview. This article describes interview as a collecting data method including the various form of interviewing, the type of questions, interviewing duration, and a series of steps in interviewing procedures. The aim of this article is introduce interview methods to the readers in order to obtain method appropriately to the metodology of the research and conducting this method paper investigates the energy efficiency in a segment of the building sector in emerging countries by analyzing and evaluating the energy efficiency of a social housing project in Brazil. Energy efficiency measures and bioclimatic design strategies are developed in order to improve thermal comfort in this social housing project and to reduce the energy consumption and expenses of their residents. The institutional barriers and constraints toward higher efficiency are described. The results of this study show that there is a high potential to increase energy efficiency in social housing in emerging countries like Brazil. The implementation and consideration of the energy efficiency measures and policy recommendations would contribute substantially to the goal to dampen the fast growth of energy demand in these countries. Moreover the improvement of energy efficiency in the social housing sector could be a driver for market transformation towards more sustainability in the whole building Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi VI hal 134S ArikuntoArikunto, S., 2007, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi VI hal 134, Rineka Apta, JakartaProsedur penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi RevisiS ArikuntoArikunto, S. 2010. Prosedur penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi. Rineka Cipta JakartaKampanye Hemat Energi Listrik Melalui PT. PLN Distribusi Jawa Timur Karya Desain grafis Di Kota SurabayaAzwar ArdiansyahArdiansyah, Azwar. 2013. Kampanye Hemat Energi Listrik Melalui PT. PLN Distribusi Jawa Timur Karya Desain grafis Di Kota Surabaya. Jurnal visual Art. 1125-30Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed. Pustaka Pelajar Yogyakarta ElkanW CreswellJhonCreswell W. Jhon. 2013. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed. Pustaka Pelajar Yogyakarta Elkan, W. 1988. Alternatives to Fuelwood in African Towns. Journal World Development, 164, Energi dalam Rancang BangunanTeti HandayaniHandayani, Efisiensi Energi dalam Rancang Bangunan. Jurnal Spektrum Penelitian Pendidikan dan Sosial Kuantitatif dan KualitatifIskandarIskandar. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial Kuantitatif dan Kualitatif. GP Press JakartaThe Study on Energy Conservation and Efficiency Improvement in the Republic of IndonesiaP KotlerKotler P. 2010. Marketing Dian Wulandari, Penerjemah. Erlangga Jakarta Kotler, Philip and Lee Nancy. 2008. Social Marketing; Influencing Behaviors for Good, Third Edition. California Sage Publications, Inc. Kementerian ESDM. 2008. The Study on Energy Conservation and Efficiency Improvement in the Republic of Indonesia. Join with JICA -MEMR Republic of Indonesia Polahidup hemat berarti gaya hidup tak boros dan tak berlebihan. Sikap hemat juga berarti memenuhi kebutuhan secara sederhana dan tak menghamburkan modal atau uang yang dimiliki. Tujuan dari pola hidup hemat ialah untuk mempersiapkan tabungan masa depan. UbahKebiasaanmu, Berikut Cara Hidup Hemat Agar Bisa Menabung. 1 Des 2020. Di zaman sekarang ada banyak sekali godaan untuk terus menerus menggunakan uang untuk membeli sesuatu. Belum lagi kemudahan berbelanja dari sistem online membuat banyak orang semakin mudah membeli sesuatu. Berbelanja tentu diperbolehkan, asal jangan sampai berlebihan Alasanlain, mengapa kita harus menghemat energi adalah karena banyak sumber energi yang kita gunakan sekarang bukanlah sumber yang dapat diperbarui dengan mudah. Alhasil, energi tersebut dapat menipis, atau bahkan bisa habis jika digunakan secara berlebihan. Manusia harus menghemat energi untuk mengurangi biaya hidup. .
  • 2ueows0tpa.pages.dev/195
  • 2ueows0tpa.pages.dev/239
  • 2ueows0tpa.pages.dev/237
  • 2ueows0tpa.pages.dev/397
  • 2ueows0tpa.pages.dev/71
  • 2ueows0tpa.pages.dev/157
  • 2ueows0tpa.pages.dev/340
  • 2ueows0tpa.pages.dev/206
  • 2ueows0tpa.pages.dev/127
  • hemat secara berlebihan dapat menjadikan orang